Biaya LTL: Komponen dan Faktor Penentu (freepik)

Biaya LTL: Komponen dan Faktor Penentu

Biaya LTL: Komponen dan Faktor Penentu (freepik)
Biaya LTL: Komponen dan Faktor Penentu (freepik)

Menyewa satu armada penuh, padahal total muatan tidak sampai memenuhi setengah truk sangat tidak efisien dari segi biaya. Oleh karena itu, metode Less Than Truck Load (LTL) menjadi alternatif pilihan banyak pelaku bisnis untuk menekan pengeluaran logistik tanpa menghentikan arus distribusi. 

Berbeda dengan metode Full Truck Load (FTL), biaya LTL sedikit lebih kompleks, karena tidak sesederhana melihat daftar harga per kilogram barang saja. Anda perlu memahami juga komponen-komponen biaya lain yang menyusun total tarif secara keseluruhan.

Yuk, kita bahas selengkapnya terkait komponen, faktor-faktor yang mempengaruhi, serta contoh perhitungannya pada artikel ini!

Baca Juga: Keuntungan Pakai LTL untuk Pengiriman, Bikin Hemat Ongkir!

Komponen Biaya LTL

Dalam skema LTL, Anda akan berbagi kapasitas ruang dalam truk dengan pengirim lain, jadi terdapat beberapa komponen biaya yang wajib Anda ketahui:

1. Tarif Dasar Pengiriman

Penyedia jasa logistik umumnya menentukan tarif dasar berdasarkan jarak tempuh antara titik jemput hingga kota tujuan. Faktor jarak dan pemilihan rute sangat mempengaruhi tarif dasar. Semakin jauh rutenya, makin besar juga porsi biaya operasional seperti tarif tol dan konsumsi bahan bakarnya. Biasanya, tarif dasar menjadi porsi terbesar dari total biaya LTL keseluruhan.

2. Berat dan Volume Barang

Dalam ranah logistik, ruang sama berharganya dengan berat. Sistem akan membandingkan berat aktual dengan volume (CBM), lalu memakai angka tertinggi. Barang ringan dengan volume besar biasanya akan terkena tarif lebih tinggi daripada muatan berat bervolume kecil.

3. Freight Class (Kelas Kargo)

Sistem ini membagi kargo ke dalam beberapa kelas berdasarkan densitas, nilai barang, dan tingkat kesulitan penanganan. Barang yang padat dan penyusunannya mudah biasanya masuk ke kelas rendah dengan tarif lebih murah. Sebaliknya, barang pecah belah atau kargo dengan bentuk tidak beraturan akan masuk ke kelas yang lebih tinggi, karena membutuhkan proteksi ekstra di dalam truk.

4. Biaya Pengelolaan (Handling Charge)

Berbeda dengan pengiriman FTL yang langsung menuju tujuan setelah penjemputan barang, kargo LTL harus mampir ke gudang transit untuk proses sortir. Komponen ini mencakup upah bongkar muat tenaga kerja di gudang serta penggunaan alat berat jika barang tidak bisa diangkat secara manual.

Setiap kali barang berpindah tangan atau berpindah truk di gudang transit, ada biaya pengelolaan yang menyertainya untuk menjamin barang tetap terorganisir dengan baik.

5. Tambahan Operasional

Beberapa pengiriman membutuhkan perlakuan khusus (accessorial charges), seperti alamat tujuan di area terbatas, jadwal pickup tertentu, atau kebutuhan alat tambahan. Jika lokasi tujuan Anda berada di area perumahan sempit atau memerlukan truk dengan liftgate (tangga hidrolik), pihak logistik akan mengenakan biaya tambahan. 

Begitu pula dengan biaya asuransi atau administrasi dokumen yang sering kali muncul sebagai pelengkap untuk memastikan keamanan kargo hingga sampai tujuan.

Baca juga: Cara Kerja LTL dalam Pengiriman Darat

Faktor Penentu Biaya

Biaya LTL: Komponen dan Faktor Penentu (freepik)
Biaya LTL: Komponen dan Faktor Penentu (freepik)

Selain komponen biaya tetap di atas, terdapat variabel dinamis yang bisa membuat total biaya LTL Anda bisa naik atau turun signifikan di waktu berbeda. Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhinya:

1. Kondisi Infrastruktur dan Akses Rute

Kualitas jalan, keterbatasan akses kendaraan besar hingga kondisi geografis dapat mempengaruhi total biaya dan kelancaran pengiriman. Mengirim kargo ke kota besar dengan akses jalan tol yang memadai biasanya lebih murah daripada rute ke wilayah pelosok dengan medan sulit. Rute yang jalannya sering rusak atau mengharuskan truk menempuh jalur memutar dengan waktu tempuh lebih lama.

2. Kepadatan Jalur Distribusi

Jalur distribusi yang padat, baik karena kemacetan maupun tingginya volume pengiriman membuat waktu transit dan memperbesar risiko keterlambatan. Dalam pengiriman LTL, satu truk harus berhenti di beberapa titik.

Saat lalu lintas padat, setiap keterlambatan kecil dapat mengganggu urutan pengiriman berikutnya. Akibatnya, biaya bahan bakar, upah pengemudi, dan penggunaan kendaraan jadi kurang optimal. Kondisi ini mendorong kenaikan biaya LTL secara keseluruhan.

3. Lonjakan Musiman

Di Indonesia, khususnya menjelang hari raya atau akhir tahun, permintaan jasa logistik biasanya melonjak tajam. Keterbatasan armada di tengah tingginya permintaan kerap memicu kenaikan tarif untuk mengimbangi beban operasional pihak jasa logistik.

4. Keseimbangan Muatan Balik (Backhaul)

Jika truk tidak memiliki muatan saat perjalanan pulang, biaya operasional perjalanan tersebut akan menjadi beban pengirim sebelumnya. Sebaliknya, rute dengan arus barang dua arah (pulang-pergi) biasanya menawarkan tarif yang lebih kompetitif.

Baca juga: Perbedaan FTL dan LTL dalam Pengiriman Darat

Contoh Perhitungan

Dalam pengiriman LTL, penyedia jasa tidak langsung menagihkan tarif berdasarkan berat aktual, melainkan membandingkannya dengan berat volumetrik.

Berat volumetrik = Volume (CBM) x Faktor Konversi

Untuk pengiriman darat, faktor konversi yang sering digunakan berkisar 250–300 kg per CBM (tergantung kebijakan pihak logistik). Setelahnya, berat yang ditagihkan (chargeable weight) adalah angka yang lebih besar antara berat aktual dan volumetrik. Angka inilah yang menjadi dasar perhitungan tarif.

Contoh:

Anda mengirim barang dengan detail berikut:

  • Berat aktual: 300 kg
  • Volume: 2 CBM
  • Rute: Jakarta–Surabaya

Berikut adalah langkah-langkah perhitungannya:

Pertama, hitung berat volumetrik. Misalnya pihak logistik menggunakan konversi 1 CBM = 250 kg, maka:

2 CBM x 250 kg = 500 kg

Kedua, tentukan berat yang ditagihkan.

  • Berat aktual: 300 kg
  • Berat volumetrik: 500 kg

Karena berat volumetrik lebih besar, maka berat barang yang ditagihkan adalah 500 kg.

Ketiga, hitung tarif dasar pengiriman. Misalnya tarif dasar LTL Jakarta–Surabaya adalah Rp2.500 per kg, maka tarif dasarnya adalah:

Chargeable weight x tarif dasar rute

maka,

500 kg x Rp2.500 = Rp1.250.000,-

Angka ini baru tarif dasar pengiriman sebelum dijumlahkan dengan komponen biaya lainnya. Pada kondisi normal, yaitu pickup di gudang biasa dan pengiriman ke area komersil, total biayanya hanya dihitung berdasarkan tarif dasar.

Namun, biaya mungkin bertambah jika:

  • Lokasi pickup atau tujuan sulit dilalui truk besar
  • Permintaan pengiriman pada jam atau jadwal khusus
  • Area tujuan berada di jalur padat dan aksesnya terbatas

Faktor-faktor ini tidak mengubah rumus dasar perhitungan, tetapi menambah biaya operasional di luar tarif dasar.

Solusi Cek Tarif Digital dari Forwarder.ai 

Efisiensi biaya logistik pada akhirnya tentang bagaimana kita bisa mengoptimalkan setiap ruang kargo. Dengan memahami komponen biaya LTL dan memperhatikan faktor-faktor penentu lainnya, Anda tetap bisa melakukan pengiriman rutin tanpa harus menyewa satu truk penuh. Kompleksitas komponen biaya LTL membuat perhitungan manual terasa memberatkan dan berisiko salah hitung.

Kini, Anda dapat dengan mudah mengecek tarif LTL secara instan melalui Forwarder.ai. Forwarder.ai menyediakan layanan trucking domestik yang praktis dan terintegrasi dalam satu platform, mulai dari cek tarif instan, booking hingga tracking realtime.

Cek layanan Forwarder.ai untuk berbagai pilihan pengiriman terbaik sesuai kebutuhan bisnis Anda!

Scroll to Top